![]() |
| Para Tukik Berlarian menuju Laut Lepas di Pantai Pangumbahan |
Dari peta produksi Google, untuk menuju Ujung Genteng kami
mengambil jalur melewati Jampang Kulon, Surade. Masih teringat bahwa jalan yang
dilewati merupakan jalanan yang panjang dan melelahkan, kondisi jalan masih
sama seperti yang kami bayangkan yakni jalanan kualitas jalan kecamatan yang
tak terlalu baik apabila telah meninggalkan kota. Cukup menyiksa bagi yang
harus duduk di jok sepeda motor tapi tetap saja kami menikmati perjalanan itu.
Untuk petunjuk arah tersedia cukup banyak sehingga jangan khawatir akan
tersesat.
![]() |
| Air Terjun Luhur Cigangsa |
Setelah melewati perjalanan panjang tanpa henti, di tengah
perjalanan menuju Ujung Genteng kami melihat sebuah petunjuk keberadaan sebuah
air terjun bernama Air Terjun Luhur Cigangsa, kamipun memutuskan untuk berbelok
di sana. Ketika jalan aspal berakhir, kami menitipkan kendaraan di rumah
penduduk dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri pematang
sawah di tepi sungai. Dari pinggir nampak sungai dengan batuan kapur di
tengahnya dan tampak seperti patah-patah, aliran air tak terlalu istimewa
layaknya sungai biasa di Jawa Barat namun setelah sampai di ujung jalan, kami
harus turun lagi sampai kira-kira 30 meter dan barulah tampak bagian yang indah
yakni ketika tiba-tiba sungai seperti melesak patah ke bawah meninggalkan
tepian batuan kapur yang berlapis majemuk menjadi kanvas bagi lukisan dari air
yang mengalir lembut di sela-sela batuan itu. Lebar atas air terjun ini sekitar
25 meter, jadi cukup lebar untuk membentuk aliran yang cantik. Di bagian bawah
terdapat seperti tampungan berupa kolam yang sebagian batuannya datar tempat
untuk mengambil foto bagi pemotret. Air dari kolam ini kemudian mengalir lagi
ke patahan kedua yang lebih sempit dan dalam untuk kemudian mengalir melewati
sungai yang relatif datar.
Di sini lelah setelah berkendaraan terbayar untuk sementara,
beristirahat sambil merasakkan segarnya air dan hembusan angin. Namun
perjalanan harus dilanjutkan, menurut perkiraan sekitar 1,5 jam lagi kami bisa
sampai di Ujung Genteng dan lebih enak untuk sampai sebelum gelap untuk mencari
tempat menginap yang pas dan cocok dengan kantong.
![]() |
| Surfer di Pangumbahan, Ujung Genteng |
Ada banyak penginapan di sini namun cukup mengagetkan karena
rate-nya cukup tinggi, meskipun kami berada di sana saat akhir minggu tetap
saja rate-nya luar biasa. Untuk hotel dengan kualifikasi hotel bintang dua pun
dibandrol rata-rata 400-700 ribu. Berkat informasi salah satu warga, untuk
mendapatkan penginapan yang relatif murah disarankan untuk mencarinya dekat
dengan Pantai Pangumbahan atau dekat site surfing, dan benar saja, ketika
menjelajahi kawasan ini penginapannya relatif lebih murah yakni antara 100-200
ribu dan sama-sama mendapatkan pemandangan sunset indah karena berada dekat
pantai dan di sini bisa memesan makan lengkap termasuk ikan segar bakar/goreng yang
disajikan di depan kamar...mmmmm yummi!
![]() |
| Senja di Pantai Pangumbahan, Ujung Genteng |
Pantai Pangumbahan memang dikenal sebagai spot surfing,
pantainya masih relatif sepi dan selain itu di pantai ini terdapat area
konservasi dan penetasan penyu sisik, hampir setiap hari pk 17.00 ada pelepasan
penyu di pantai ini ketika banyak wisatawan berkunjung. Jadi bila sore hari
berada di sini, kita bisa menikmati tiga hal: menonton atau surfing, melepaskan
tukik ke laut serta menikmati pemandangan matahari terbenam.
![]() |
| Hasil tangkapan dibawa ke TPI |
Bila bangun pagi, keluarlah dari kamar dan hiruplah udara
segar beraroma asin dari laut, sejenak menikmati air yang pasang di pinggiran
cukup menyenangkan dilakukan sebelum mandi pagi dan sarapan. Namun jika hendak
eksplorasi lebih jauh, tempat pelelang ikan adalah tempat yang menyenangkan,
bagaimana tidak, melihat puluhan ikan segar yang ditenteng nelayan dari
perahu-perahu untuk ditimbang dan dijual sungguh mengasyikkan, pasti setidaknya
ingin membeli sedikit hasil laut segar itu dan dijadikan sarapan di penginapan,
sedaaap. Pagi itupun diisi dengan acara berputar-putar dari TPI, kemudian
pantai pendaratan perahu dan kembali masuk ke kawasan konservasi penyu
Pangumbahan.
![]() |
| Pantai Pasir Putih, Ujung Genteng |
Karena masih dirasakan masih ada waktu untuk eskplorasi, kami
memutuskan untuk mengunjungi Pantai Pasir Putih, salah satu pantai yang masih
jarang dikunjungi, melewati jalanan tanah, berbatu, kemudian perladangan dan
berakhir di kawasan hutan homogen kami berhenti dan meneruskannya dengan
berjalan kaki ke Pantai Pasir Putih selama kira-kira 20 menit, di sana terdapat
muara yang berakhir di pesisir pantai yang sangat panjang dan terbuka. Banyak
para pemancing yang mencoba peruntungannya di muara ini, tapi kami memilih
untuk hanya duduk dan memanjakan mata menikmati hamparan lautan.
![]() |
| Senja di Pelabuhan Ratu |
Siang hari kunjungan di Ujung Genteng berakhir, perjalanan
akan dilanjutkan menuju Pelabuhan Ratu, lokasi transit dan istirahat sebelum
menuju Banten. Perjalanan selama tiga jam kembali dilalui, cukup melelahkan
sampai akhirnya kelegaan terpancar ketika mencapai kota Pelabuhan Ratu untuk
istirahat, kembali menikmati sunset tersaput mendung dan malam di kota ini.
Selamat istirahat. (w&y)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar