Kamis, 21 Agustus 2014

WHEN NATURE LEADS US FOR MAKING FRIENDS (Inspirasi di Gerbang Ujung Kulon)

Sunset di Tanjung Lesung
Apa bedanya pejalan dan pelancong, traveller dan turis? Keduanya mungkin menikmati hal yang sama, ibaratnya kita masuk di sebuah restoran dan mencari makanan favorit kita. Kita akan sama-sama duduk dan menikmati makanan yang sama, rasa yang sama dan bahkan harga yang sama. Lalu dimana bedanya? Apa yang kami rasakan barusan saat melakukan perjalanan ke Taman Nasional Ujung Kulon mungkin akan membantu menemukan jawaban atas pertanyaan di atas tadi. Setidaknya bagi saya.

Taman Nasional Ujung Kulon adalah sebuah nama area yang sudah lama menggelitik dan membangun rasa penasaran kami. Berbekal riset kecil, kebosanan saat libur lebaran di rumah, dan niat besar untuk mendapatkan tempat indah untuk dijelajahi maka diputuskanlah bahwa ke sana kami akan pergi. Ke sana, ke ujung peta pulau Jawa, ke sebuah tanjung besar dimana badak menjadi ikonnya. Setelah sholat Ied dan silaturahmi ke tetangga selesai, kami berangkat dari Tangerang. Jalur yang kami pilih adalah Cisauk – Cikupa – Balaraja – Serang- Pandeglang - Labuhan – Panimbang (Tj Lesung)- Sumur-Tamanjaya…dan jika beruntung, Pulau Peucang!

Pantai Kalicaa jelang petang
Terik sekali siang itu ketika harus melintasi jalanan, jalanan masih terasa padat oleh orang yang hendak bersilaturahmi. Setelah berjalan selama 5 jam sampailah kami di daerah yang bernama Panimbang, tentu nama ini tidak populer tapi kalau menyebut Tanjung Lesung pasti orang akan familiar. Tanjung Lesung adalah satu kawasan pantai komersial yang dimiliki swasta dimana dibangun resort dan pusat aktivitas keluarga yang sangat baik, bahkan cenderung mewah maka tak heran bila kawasan pantainya sangat bersih, tertata rapi dan teratur. Larik pantai tanpa sampah, pasir putih, jajaran pohon kelapa maupun pandan laut dan butun, gardu pandang, bangku duduk, dan lampu tembak membuat kawasan ini sangat indah memang. Tentu saja itu semua tak gratis, sekedar masuk dan parkir saja dikenakan biaya, Rp 50rb untuk motor dan Rp 100rb untuk mobil. Ada harga ada pelayanan, yang 100rb dapat salam dan senyum dari penjaganya sementara jangan kaget jika yang 50rb cuma dapat muka asem dan ucapan ketus!

Rumpon ikan di Pantai Kemuning, Tanjung Lesung
Saat sunset dilalui, kami mencari homestay untuk menginap karena seharian berkendara tentu sangat letih dan sangat tidak dianjurkan untuk jalan malam, terlebih jika menggunakan sepeda motor karena jalur yang akan dilewati sepi, jauh dan nantinya hancur. Harga homestay di Tanjung Lesung cukup mahal, penginapan sederhana tanpa AC dibandrol Rp 350rb, maka lebih baik mencari homestay yang agak di luar kawasan Tanjung Lesung. Dekat pertigaan jalan masuk Tj Lesung (Pasar Panimbang) kami menemukan plang homestay, di depannya ada bengkel tambal ban dan warung. Pemiliknya bernama Pak Aom, orang tua yang ramah yang tak keberatan ketika kami menawar 150rb untuk menginap semalam di homestaynya. Tak usah tanya fasilitas kamar, KM di luar..tapi yang asik adalah, mereka punya halaman belakang menghadap laut dan punya semacam pondok pancing. Cocok untuk memancing, sekedar ngopi sambil mendengar debur ombak, melihat taburan bintang dimalam hari atau menunggu sunrise esok pagi. Dan benar saja, di pagi harinya dengan latar depan rumpon-rumpon nelayan, kami menikmati sinar mentari yang terbit di sisi timur, perfect sunrise....

Patung Badak di gerbang kawasan TNUK
Puas menikmati pagi, perjalanan dilanjutkan menuju Taman Jaya yakni desa terakhir menuju Pulau Peucang, jarak waktu dari Panimbang ke Taman Jaya sekitar 3 jam dengan menyusuri jalan antara pemukiman, lahan perkebunan, hutan dan jika sudah sampai Kecamatan Sumur lintasannya bakal sejajar garis pantai (tapi bukan tepi pantai). Sebenarnya untuk menuju Peucang bisa juga dari kecamatan Sumur (1 jam sebelum Taman Jaya) tapi kami memilih di Taman Jaya karena petunjuknya begitu (???). Tapi ternyata pilihan kami tepat meskipun untuk sampai di Taman Jaya merupakan perjuangan keras karena harus melewati satu jam jalan yang rusak berat, sekitar 25 km jaraknya dari Sumur ke Taman Jaya. Di Taman Jaya ini kami mencari Homestay Sunda Jaya milik Pak Komar yang memang sudah sangat popular di kalangan backpacker. Orangnya sibuk dengan handphone (karena sedang musim padat kunjungan) tapi sangat ramah, helpful, dan homestaynya…..adeem…hanya berbiaya Rp 100rb per malam!!

Karena kami sampai di sini lewat tengah hari dan ternyata rombongan ke Peucang baru saja berangkat, maka terpaksalah kami menunggu, siapa tau ada rombongan yang bisa digabungin. Sebagai info, elemen paling mahal untuk ke Peucang adalah perahu. Untuk satu perahu dengan kapasitas 20 orang dan pemakaian 2 hari 1 malam, biayanya bisa sampai Rp 3jt, untuk kapasitas lebih kecil yakni 10-15 orang tidak jauh beda yakni IDR 2 jt. Itu belum termasuk biaya guide (petugas TNUK), biaya penginapan/barak di Peucang (tidak boleh camping di Peucang), logistik, biaya pemasak di kapal (jika minta dimasakkan), dan tiket masuk kawasan Taman Nasional (Rp 5rb/orang sampai akhir Agustus 2014). Lama menunggu tanpa ada kabar, waktu pun dihabiskan dengan berjalan-jalan di tepian pantai, dermaga bahkan keliling desa namun tetap tak ada rombongan lain yang datang. Tampaknya kami harus rela tak bisa mencapai Peucang, mungkin lain kali lah, tapi ternyata peruntungan kami berubah.

Pemandangan dari depan homestay Taman Jaya
Malam-malam kesunyian terusik dengan datangnya rombongan keluarga yang tampaknya akan menyeberang ke Peucang karena sudah membawa peralatan lengkap untuk eksplorasi pulau dan laut. Diakui ada rasa sungkan ketika melihat rombongan datang dengan jauh lebih lengkap dan full facility seperti itu, ada rasa inferior sedikit sehingga menghambat komunikasi. Mungkin perasaan pertama selalu begitu karena belum mengenal.

Pagi-pagi, kami berdua melihat ada rombongan kecil lain, ada yang berbeda dengan rombongan besar sebelumnya yang datang. Mereka tampaknya sama dengan kami, datang dengan kelompok kecil, untung-untungan akan dapat perahu, dan sama-sama menunggu kebaikan orang. Dan benar saja, mereka bertiga pun berbeda grup, satu orang datang sendiri sementara dua bersama. Lima orang terkumpul, masih terlalu mahal untuk menyewa perahu. Kembali kami menunggu.

Sempat menikmati sunset di dermaga Taman Jaya
Tak disangka, Om Indra, salah satu dari rombongan yang datang malam tadi justru yang menyapa terlebih dahulu saat saya membuat kopi pagi. Ia menanyakan apakah kami hendak ke Peucang juga, saya jawab iya tapi kami menunggu rombongan lain agar bisa sharing biaya boat. Keberuntungan kami, Om Indra justru menawarkan untuk bergabung karena mereka cuma berdelapan, masih ada ruang cukup untuk kami. Sungguh sapaan itu tak bisa dilupakan, karena sapaan sederhana itu menghasilkan dua hal: satu, menghapus inferioritas dan prasangka saya atas status, dan kedua, membuat kami berkesempatan untuk ke Peucang setelah hampir putus harapan. Terimakasih Om Indra, Om Andy, Om Awi dan Koh Dion, Regi serta para tante yang supeer!

Setelah bergabung di perahu, berkesempatanlah kami mengobrol dan tahulah kami bahwa mereka pun sudah melakukan perjalanan banyak kali, pengalaman travel mereka sudah bejibun, dan saya pikir itulah yang membuat mereka punya sikap terbuka. Para pejalan adalah orang terbuka karena telah melalui interaksi yang bebas, beragam, dan tak punya rasa khawatir atau curiga tanpa alasan, dan saya harus belajar itu. Rasa inferior saya salah! Seandainya tak ada sapa pagi itu, mungkin kami tak bisa menuntaskan penasaran kami.
Bersama mereka yang bergitu ramah, terbuka dan baik hati lebih terasa lagi bahwa dunia traveling adalah dunia untuk mengenal dan membuka diri tanpa prasangka. Melebur dalam pesona alam yang sama, matahari yang sama, keindahan dan kesusahan yang sama, perbedaan terasa tak berarti. Saya benar-benar menyadari bahwa perjalanan kami indah, memaknai bahwa sebuah perjalanan bukanlah dihitung dari sejauh mana kita pergi melainkan seberapa banyak teman yang kita ciptakan.

Tim dadakan akhirnya ke Peucang...huray!!
Untuk pertanyaan saya di depan tadi, saya merumuskan sendiri begini: Pejalan adalah orang yang terlibat secara lebih intens, mencoba mengenal orang sekitarnya, mengenal proses di dekatnya serta tak segan berlama-lama menunggu dan membuka diri untuk menikmati yang tak terduga sementara pelancong adalah yang hanya datang terburu-buru untuk melihat objek, berfoto dan kemudian pergi, tak perlu menyapa, berkenalan apalagi mengingat nama orang asing yang ada di dekatnya.

Salam buat para pejalan. Nanti kami lanjutkan cerita kami tentang Ujung Kulon. W&Y, Ags 2014. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar